Untitled

“Kamu hanya tidak pernah tahu, sakit itu seringkali kusimpan rapi dalam diamku…”

Hujan begitu derasnya turun dari langit.
Ku pandangi ujung kakiku yg mulai memucat. Dingin. Tapi inginku belum juga beranjak. Menemuimu.
Berdiri di emperan toko. Dengan tubuh kuyup-dan rasa takut.
Maaf jika membuatmu menunggu disana.
Andaikan petir tak ikut bercengkrama dengan hujan sore itu, aku sudah berlari menembus deras hujan, menemuimu.
Tapi sayangnya aku terjebak dengan rasa takutku. Dan lebih memilih membiarkanmu menunggu. Maaf. Aku belum mampu menghadapi rasa takutku untuk satu itu.

Kemudian hujan sedikit menurunkan frekuensi derasnya, ketika aku membulatkan tekad untuk menembusnya.
Aku tiba. Tapi tak kudapati kau disana. Hingga seseorang mengabarkan bahwa kau sudah pulang.
Seketika ada yg berdesir. Tapi aku memilih mengabaikannya.
Otakku malah berpikir kau akan menyusulku di tempatku berteduh beberapa saat lalu.
Dan tiba-tiba aku mendapati tubuhku tengah berlari menembus hujan yg kembali deras megguyur bumi. Menatap emper toko bertembok kuning itu dari kejauhan, dan tak ada siapapun. Harapan yg muncul tiba-tiba itu seketika pupus.
Apalagi ketika petir kembali dengan gagahnya bercengkrama dengan hujan di atas langit.
Aku tak lagi berharap ketika kudapati kabar darimu bahwa kau masih disana, hanya beranjak dari tempat semula.
Aku jengah.

To be continued…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s