3 Tahun Ternyata Belum Cukup

|Ternyata waktu 3 tahun ini belum cukup

Aku mendapati dirimu bersimbah darah. Tengah berusaha tetap berdiri dengan luka-luka sayatan yg bahkan membuatmu nyaris tak ku kenali.

“Lepaskan, jika sudah tak kau temui lagi yang kau cari dari diriku..” ujarku lirih setelah bermenit-menit  mmbisu.
“Kenapa tidak kau saja yg pergi?”
Aku mngangkat wajahku prlahan. Wajahnya yg lelah tampak mndung, tak kalah pekatnya dg wajahku.
“Aku sudah prnah mgatakannya padamu..”
“apa?”
“Jemariku tak pernah terlalu erat mengikatmu. dgn membebaskan, itu caraku mncintai..”
“Tidak, aku masih ingin brsamamu..”
“Demi apa lagi, jika aku tk bisa memberi bahagia yg kau ingin?”
“Aku masih ingin berkomitmen denganmu..”
“hanya demi komitmen?”
“Tidak. karena -Nya yg paling utama.”
Aku diam. Begitu banyak untaian kalimat yg berputar-putar  di otakku sedari tadi, hingga aku kesulitan sendiri mengatakannya. Ada bznyak hal yg ingin ku utarakan, tapi tak ada yg mampu kurangkai dg benar.
“Apa kau sudah temui bahagia yg kau cari? Apa sudah tidak bisa lagi kau temukan itu dari diriku?” Tanyanya memecah sunyi.
Aku mnggeleng perlahan. “Bukan seperti itu.”
“Lalu?”
“Kenpa kau malah memutar pernyataanku menjadi tanya?”
“Aku hanya ingin tau. Jika iya, pergilah..”
“Tidak. Kau tidak mengerti.”
“Maaf jika aku tak pernah bisa mengertimu”
Aku terdiam. Menatap lekat dua bola matanya yg tengah menerawang jauh.
“Aku mugkin sudah menemukan sosok terbaik dalam hidupku, dan untuk hidupku, yg senantiasa memberi dan menemaniku dalam keadaan apapun tanpa pernah aku minta. Tapi  aku kira kau belum.”
“Maksudmu?”
“Aku tak pernah bisa jadi seperti yg kau ingin. Aku hnya terus-terusan membebanimu dengan rasa kecewa dan luka. Aku seakan menuntutmu tak henti-hentinya bersabar dan mengalah atas keegoisan dan sifat kerasku. Itukah bahagia yg kau cari?” Berhasil. Yah. Dengan susah payah aku berusaha mengeluarkan kalimat-kalimat itu dari otakku.
“Ini tidak pudar. Dan aku tidak sedang memaksamu untuk pergi. Aku hanya ingin kau tau, aku tak ingin melihatmu terus seperti ini. Aku bgitu terluka..” tambahku dengan suara semakin lirih.
“Aku cukup bahagia hanya dengan menyayangimu.”
“Tapi aku tidak bahagia melihatmu terus tersakiti olehku, sedangkan aku sendiri tak bisa menolongmu mengobati luka itu.”
Laki-laki itu terdiam sejenak. “Butuh waktu berapa lama lagi?”
“untuk apa?”
“untukmu belajar, aku akan menunggu.”
“aku tak suka ditunggu, mski aku memang seringkali membuatmu menunggu. Sudab  cukup egoisku.”
Bermenit-menit kemudian, kami sama-sama terdiam. Hanya terdengar suara deru mesin kendaraan yg berlalu lalang. Entahlah. Kosakata dalam  otakku rasanya lenyap seketika.
“Aku mencintaimu” ujarnya tiba-tiba.
“Aku juga, sangat .”
“Harapanku sudah besar padamu”
“Kau tau aku juga”
“Aku sudah cukup senang bisa melihatmu setiap hari.”
“Jangan lagi bersikap seolah sedang tak trjadi apa”, aku pun terluka ketika mndapati dirimu terluka”
“selama ini ternyata belum cukup meyakinkanmu.”
“aku tahu aku bgitu bodoh dan tak tau malu”
“Bukan. Mungkin kau benar. Aku belum menemukannya”
“Hmm..” Airmata yg sedari tadi kutahan setengah mati akhirnya tak terbendung.
Terlebih ketika tangan dinginnya menyntuh dan menggenggam tanganku.
“Aku mau kau selalu baik-baik saja..”
Aku hanya diam memaki diri sendiri dalam hati karena gagal mengokohkan hati.
“Kita ditakdirkan bersama, tapi mungkin tidak sejalan. kau benar, aku tdk bisa memksakan kau selalu jd sumber bahagiaku. Aku belum menemukan yg aku cari.”
“maaf aku tk prnah bisa.” Susah payah aku berbicara d tngah deras mata air yg mngalir dr pelupuk mataku.
Dia menyentuh puncak kpalaku dn mengacak-acak poni depanku yg mulai memanjang. “Kita akan bertemu lagi. Dan  berjanjilah, kita akan sama-sama bahagia.”
Ada yg berdesir seketika. Luka. Ya . Tapi aku tak bisa egois menahannya. Ini salahku. Toh aku memang tak bisa beri Bahagia yg dia cari. Hanya bisa melukainya.

Aku mengangguk perlahan.
Membiarkannya mengecup puncak kepalaku. Lalu kudapati ia berdiri dan berjalan pergi.
Ingin rasanya cepat-cepat  brteriak memanggilnya agar kmbali. Harapan dia kemudian berbalik dan menarikku ke dalam pelukannya pun begtu besar. Tapi keinginan melihatnya bahagia pun jauh lebih besar dari itu.

Mungkin yg tersakit kali ini adalah jalan yg trbaik.
Dia benar. Kita pasti akan bahagia nantinya, tapi tidak dengan bersama..
————-

Sudah setengah windu berlalu sejak saat itu. Aku masih senang seperti ini.
Sedang kau sudah lebih dulu menepati janjimu untuk bahagia.
Satu setengah tahun yg lalu, kau temukan yg kau cari. Dan seminggu yg lalu kau menandaiku dalam sebuah foto bayi laki-laki mungil dalam sebuah jejaring sosial.
Namanya “Bintang”.
Ternyata nama khayalan itu kau pakai juga.
Nama unttk sesosok bayi mungil khayalan kita dimasa depan yg terpaksa harus kita kubur dalam-dalam.

Aku rasa lengkap sudah yg kau cari.
Aku turut berbahagia, dengan doa yg tak prnah putus sejak pertama kali kau membalikkan badan dan berjalan pergi saat itu.

| Doakan aku lekas bisa menepati janjiku juga ya?

Dari wanita (yg pernah mencintaimu)
yg ingin  memberimu bahagia dengan melepaskanmu

-Apa aku masih boleh merindu?
Aku ingin bertemu “Bintang”mu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s