Rumit – berlebihan

Haruskah terus seperti ini?

Membuat masalah dengan batin sendiri. Menggantungkan beban di pikiran [lagi]. Sementara yang lain sudah diam. Tak mempermasalahkan. Tapi tetap saja aku terkepung.

Tak ada yang paham pasti, selain Dirimu, aku tahu.

Tak ada yang aku harap pasti selalu bersamaku, selain Dirimu. Aku sangat sadar.

Aku saja tak mengerti kenapa mesti seperti ini. Melukai batin sendiri. Memberatkan pikiran sendiri. Cari penyakit [lagi]. Lalu siapa yang mesti disalahkan? Takdir? Bodoh.

Sedang skenario paling awal saja tak ada yang bisa mengintip, apalagi setelahnya.

Rapat. Hanya pembuatnya yang tahu. 

Bodoh memang. Menganggap dirimu selalu menjadi beban [untuk yg lain]. Tapi setiap rasa bersalah yang kerap kali menyergap dadakan itu menodongku. Bagaimana aku tidak terpojok [lagi]?

 

Iyakah benar seperti itu? 

Tapi bukankah setiap yang dicipta-Nya itu punya lebih dan kurang masing-masing?

Tapi bukankah Dia sudah punya berlembar-lembar skenario untuk masing-masing hasil ciptaan-Nya? Katanya bahkan jauh sebelum sebuah nafas ditiupkan untuk sebuah kehidupan?

 

hmm..

Sudahlah. Bagaimanapun juga aku bersalah. Berlebihan. Waktu juga sudah meninggalnya jauh di belakang. Seharusnya aku hanya tinggal duduk, dan mengenang. Tidak boleh serumit ini. Apalagi dengan batinku sendiri.

Seharusnya aku tak perlu khawatir [lagi]. Skenario sudah tertulis rapi dari awal-hingga akhir nanti. Sudah ada yang mengatur. Tinggal menjalani dan mensyukuri.

Aku percaya. Aku tahu-Dia selalu tahu apa-apa yang aku perlu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s