Seperti Setitik Debu

Aku seperti setitik debu. Mudah di terbangkan oleh sang angin.

Aku seperti batu. Kuat, diam, dan dingin.

Aku seperti air sungai. Mengalir, mengikuti arus. Kemudian berbaur di laut.

Aku seperti minyak tanah. Menyendiri. Dan sukar.

Aku seperti hujan. Melapukkan. Menyebalkan.

Aku memang mudah diterbangkan. Tapi aku juga bisa kokoh. Aku selalu berusaha mengikuti arus dan membaur, tapi aku juga bisa berdiri sendiri.

Aku bukanlah matahari. Aku bukanlah air sumber kehidupan. Aku bukan emas yang banyak dibeli. Dan aku bukan pula intan yang banyak dicari.

Aku hanya setitik debu, yang kadang disapu dan disingkirkan.

Aku tak pernah berusaha menjadi seperti matahari. Aku hanya berusaha menjadi angin. Menyejukkan. Datang saat panas menyerangmu.

Aku tak pernah berusaha menjadi malaikat. Aku hanya selalu berusaha menjadi baik. Membuat nyaman setiap makhluk di sekitarku.

Tapi semua seakan tak pernah memahami. Seperti enggan, meski hanya melirik.

Sebegitu hinakah aku? Sebegitu buruknya-kah aku?

Tuhan. Tolong katakan salahku.

Tak pantaskah setitik debu sepertiku mendapatkan kepedulian?

Aku hanya ingin kalian sadar. Semua tak akan mudah bila sendiri. Hidup kalian tidak akan untuk kalian sendiri. Egois bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan. Individualis bukanlah cara untuk hidup di dunia ini. Di dunia ini tidak hanya ada kalian. Kalian tak akan pernah bisa jika sendiri.  Semua tak akan mudah bila kalian jadi sepertiku. Aku hanya ingin kalian peduli.

Aku memang tak pernah sesempurna kalian.

Salahkah aku jika aku memang tak sempurna? Bukankah hanyalah Dia yang paling sempurna? Tapi mengapa sehina itu aku di mata kalian?

Semua rasa ini menyiksaku. Menggoyahkan pertahananku untuk tetap berdiri. Setiap hari. Bahkan setiap otakku mulai berpikir setiap pagi.

Kadang aku memang tertawa. Tapi itu bukan karena aku tak pernah peduli. Aku hanya ingin tunjukkan kenyamananku bersama kalian. Aku hanya ingin menghargai setiap yang kalian lakukan. Tapi semua tak pernah sama untukku.

Apakah sebegitu burukkah diriku?

Sering. Hampir setiap malam air mata ini jatuh. Bukan karena menangisi kelemahanku. tapi untuk menangisi diriku sendiri. Mengapa aku tak pernah bisa jadi seperti yang kalian ingin? Aku kecewa pada diriku sendiri!

Air mata ini jatuh hampir setiap malam, bukan karena aku benci pada kalian. Sesungguhnya hanya untuk menghimpun kekuatan di esok hari. Berusaha bertahan terlalu lama itu melelahkan. Dan hanya ini yang bisa aku lakukan untuk melegakan hatiku.

Hanya dengan tulisan aku dapat mengungkapkan semua tekanan batin yang menghimpitku. Karena bagaimanapun juga, kalian tak akan pernah tahu rasanya, jika kalian tak mengalaminya sendiri. Cobalah berada dalam posisiku? Akankah kalian dapat menahan sekuat ini? Sesungguhnya hanya Tuhan yang tau semua yang ku rasa.

*Ini coretan keputus-asaanku, ketika aku benar-benar tak tahu harus berbagi pada siapa lagi :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s