I Surrender #2

Kie tergelak tak berdaya dengan selang infus menancap di lengan kirinya. Maghnya kambuh. Lebih parah malah. Membuat livernya nyaris ikut terserang. Farin yang tadinya duduk di sebuah kursi di samping ranjang Kie, meletakkan kepalanya di tepi ranjang dan tertidur karena lelah.

Sedangkan Rendra, laki-laki itu berada di luar kamar tempat Kie dirawat. Duduk di sebuah bangku kayu panjang dengan kepala yang disandarkan pada tembok. Matanya terpejam, tapi ia tidak sedang tidur. Pikirannya melayang, entah kemana arahnya. Rasa khawatir menguasai pikirannya sejak beberapa jam yang lalu. Bukan. Bukan hanya sebatas perasaan khawatir pada sahabat. Ini lebih. Bahkan lebih dapat membuatnya nyaris tidak tidur semalaman akhir-akhir ini, hanya karena memikirkan bagaimana harusnya.

“Rendra..” Sebuah suara berat yang memanggil namanya membuat Rendra terpaksa membuka matanya.

Seorang laki-laki nyaris seusia ayahnya, berdiri dengan wajah bersahabat. Laki-laki yang sudah tak asing lagi baginya. Ayah Kinanthi.

“Eh, ya Om?”

“Kenapa tidak masuk?” tanya Ayah Kie dengan senyum ramah.

“Ee, gerah berada di dalam lama-lama.. Lagipula saya tidak ingin mengganggu Kie istirahat, Om..” jawab Rendra salah tingkah.

“Oh, begitu..” Laki-laki itu manggut-manggut. Sedetik kemudian ia seperti teringat sesustu.

“Ren, hari sudah gelap, apa kau tidak dicari Ibumu? Disini sudah ada Om dan Tante yang menjaga Kinanthi. Pulang saja dulu, jangan lupa ajak si Farin.. Kalian pasti lelah..”

Rendra baru sadar, ia sama sekali tidak memberi kabar pada orang dirumah. Bahkan handphone miliknya pun dibiarkan lowbat di dalam saku celana abu-abunya.

“Eh, iya Om..” Rendra tersenyum seraya menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya sama sekali tidak terasa gatal. “Saya akan mengajak Farin pulang juga..” tambahnya kemudian.

“Hmm.., Oke.. Hati-hati di jalan ya.. Terimakasih sudah membawa Kie ke rumah sakit..” ujar laki-laki itu masih dengan senyum dan wajahnya yang bersahabat.

Rendra tersenyum dan mengangguk sopan. “Permisi Om..” Kakinya melangkah masuk ke dalam kamar tempat Kie dirawat. Dibangunkannya Farin perlahan dengan beberapa kali menggoyangkan lengan Farin.

Gadis itu terbangun, mengerjap sesaat, lalu tersadar bahwa hari sudah gelap. Dengan mata yang masih belum terbuka sempurna, Farin menyentuh lengan Kie  yang masih tertidur dengan lembut sesaat, kemudian  meraih tas sekolah miliknya yang sedari tadi berkedudukan di atas almari kecil di sudut ruangan. Sedetik kemudian ia sudah berada di belakang Rendra- berpamitan pada Ibunda Kie yang tengah membetulkan selimut biru yang menutupi sebagian tubuh Kie.

“Hati-hati di jalan ya..” pesan wanita berjilbab itu dengan lembut.

Dua anak berbaju putih-abu-abu itu tersenyum seraya mengangguk-mengiyakan pesan Ibunda  Kinanthi.

****

                Rendra membuka pintu di depannya perlahan. Dilihatnya seorang gadis tengah terbaring dengan pandangan menatap ke arah jendela besar yang berada tak jauh dari ranjang tempatnya berbaring.

Rendra melangkahkan kakinya perlahan. Tak ingin mengusik keasyikan yang tengah dilakukan gadis itu.

“Eh,..” tiba-tiba gadis itu sudah menoleh. Menatap Rendra dengan binar wajah yang sulit diartikan.

“Maaf..”  ujar Rendra cepat.

“Untuk?” kening gadis itu berkerut.

“Mengganggu keasyikanmu..”

Kinanthi terkekeh sesaat. “Asyik apa? Aku hanya kesepian..”

“Memangnya kemana semuanya? Farin belum sampai? Dia berangkat lebih dulu kesini..”

“Bisakah kau bertanya satu persatu?” goda Kie dengan senyum melebar.

Rendra hanya meringis.

“Bunda ke mushalla..  sedang ayah baru saja pulang. Farin belum kesini, mungkin masih ada keperluan di luar..” jawaban Kie diakhiri dengan senyuman dari bibir pucatnya.

Rendra manggut-manggut. Sedetik kemudian, “Kau masih sakit?”

Kie menggeleng mantap. “Jauh lebih baik, aku tak apa.. dan..terimakasih..” Kie kembali tersenyum.

“terimakasih untuk apa?”

“Pertama, kamu udah bawa aku ke tempat yang paling kubenci. Kedua, udah mau jengukin aku hari ini..”

Rendra tak mengerti harus menjawab apa. Yang pasti pikirannya saat ini tiba-tiba terasa jauh lebih tenang dari semalam.

“Ren, di sekolah ngapain aja? Tadi sebenernya pengen banget masuk ..” terbesit sedikit nada kecewa pada kalimat Kie.

“Yah seperti biasa, Kie.. kamu jangan masuk sekolah dulu sebelum benar-benar sehat..” ujar Rendra seraya meletakkan bungkusan bubur kacang hijau yang sempat dibelinya di jalan tadi di atas meja.

“Sudah makan? Kau mau bubur kacang hijau?” tanya Rendra kemudian.

Kie menggeleng. “Belum ingin makan..”

Terdengan Rendra menghela napasnya pelan. “Jaga dirimu. Kenapa harus anti sekali terhadap makanan? Kau ingin diet? Tidak lihatkah badanmu sudah terlalu kurus untuk diet?”

Kie terdiam. Mengalihkan pandangannya dari mata teduh Rendra. Kata-kata Rendra membuat hatinya seakan ingin melonjak keluar.

“Kie..”

Kie menoleh. “Maaf..”

“Aku ingin ini jadi yang terakhir kamu terlambat makan..”

Kie terdiam, kedua matanya menangkap senyum tulus di wajah Rendra. Kie menundukkan kepalanya. Ia tak berani menatap lebih lama lagi. Ia takut. Sangat takut.

“Hey.. Janji ya?” jari kelingking tangan kanan Rendra terulur di depan wajah Kie.

Sesaat Kie tak bereaksi. Gadis itu hanya menatap jari kelingking yang diulurkan Rendra dengan penuh keraguan.

“Kenapa tidak mau berjanji? Aku hanya ingin hal seperti ini tidak lagi terjadi padamu..” ujar Rendra sungguh-sungguh.

Hati Kie meluluh. Perlahan kelingking kanannya menyambut jari kelingking Rendra.

“Terimakasih..” ujar Rendra ketika jari kelingkingnya telah bekait dengan jari kelingking Kie.

Kie tersenyum. Nyaris hambar. Rasa takut semakin mengusik pikiran dan hatinya. Ia tak ingin jauh melambung dan terjatuh lagi. Ia tak ingin Rendra berhenti menjadi sahabatnya. Tapi ia pun senang saat Rendra membuatnya merasa seperti sangat berarti seperti ini.

****

                Pagi yang cerah itu, Kie kembali bersekolah. Kini barang-barang di dalam tas sekolahnya bertambah satu macam. Obat. Ya. Kemanapun Kie pergi sekarang, obat harus dibawanya. Hanya untuk berjaga-jaga kalau sakit itu kambuh tiba-tiba.

“Udah enakan kan Kie?” Farin menatap wajah Kie yang terlihat ceria meski tubuhnya masih belum benar-benar sehat.

Kie tersenyum. “Insyaallah..”

“Kie.. Rendra belum ngomong sama kamu?” tanya Farin kemudian.

“Ngomong apa?”

“Ya.. pokoknya ngomong.. Penting..”

“Apa sih? Jangan membuatku penasaran seperti itu. Aku tidak suka.” Kening Kie berkerut.

Farin terdiam.

“Tuh kan.. Mesti ada rahasia-rahasiaan..”

“Hhehe.. Nggak kok.. Nggak ada apa-apa, Kinanthi..”

Kie hanya merengut. Tak ingin memaksakan keinginannya agar Farin bicara.

****

to be continued..

maaf yah cuman sedikit..🙂

dan terimakasih untuk yang sudah mau membuang waktunya, demi membaca coretan anak belum berpengalaman seperti saya..😀

saran dan kritikan sangat diperlukan ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s