I Surrender #1

Gadis itu menatap lekat-lekat ke atas langit. Tepatnya kaki langit bagian barat. Seperti tak ingin barang sedetikpun kehilangan momen-momen senja sore itu. Dinikmatinya cahaya kemerahan matahari yang perlahan kembali ditelan bumi, juga desiran lembut angin yang menerpa wajah berparas ayunya.

“Kie..”

Gadis itu menoleh. Seorang laki-laki yang tampak sebaya dengannya menyodorkan sebuah  jaket putih ke depan wajah sang gadis. Gadis perparas ayu itu kemudian tersenyum pada laki-laki di depannya seraya meraih jaket putih yang disodorkan.

Gadis itu bernama Kie. Kinanthi Larasati tepatnya. Gadis pintar dan sregep itu lahir di Kota Pahlawan, 22 Juni, 17 tahun yang lalu. Kini di usianya yang nyaris 17 tahun, ia masih sendiri. Tak ada seorang laki-laki yang selalu mengantar-jemputnya kesana-kemari, atapun yang selalu menjaganya dan menggandengnya sebagai kekasih.

Ini bukan lagi karena prinsip. Prinsipnya untuk menutup hati rapat-rapat sudah runtuh sejak setahun yang lalu. Sejak ia mengenal sosok yang saat ini sedang berada di sampingnya.

“Kie.. Nggak bosan apa lihatin langit?” tanya laki-laki yang tengah berdiri di sampingnya.

Kinanthi menoleh dan tersenyum. “Kamu bosan?”

Laki-laki itu menggeleng. “Kenapa kamu selalu betah berjam-jam hanya menatap langit?”

Kinanthi kembali tersenyum. Kai ini lebih lebar. Matanya kembali menatap ke atas langit. “Langit itu punya banyak rahasia, Ren. Indahnya tak pernah terduga..”

“Rahasia apa?”

“Rahasia tentang semua cerita anak manusia, yang disaksikannya dalam diam dari atas sana..” jawab Kinanthi dengan senyum melebar.

“……”

Gadis menoleh mengetahui lawan bicaranya tak menjawab. Dilihatnya Rendra sedang tersenyum menatap ke atas langit.

“Kenapa tiba-tiba senyum sendiri?” tegur Kinanthi geli.

“Terhipnotis sama omongan kamu..” jawab Rendra tanpa mengalihkan pandangan dari langit.

Kinanthi tertawa. Selalu seperti ini. Laki-laki di sampingnya itu selalu membawa warna-warni dalam hidupnya. Dan itu jugalah alasan mengapa setahun terakhir ini ia selalu merasa ketakutan.

“Kie.. Pulang yuk.. Kalau pulang lewat maghrib, nanti udaranya jadi lebih dingin..”

Kinanthi tersenyum seraya mengangguk mantap.

Keduanya kemudian berjalan ke tempat dimana sepeda motor Rendra diparkir.

“Eh, terimakasih..” ujar Kinanthi seraya menyodorkan jaket putih pada Rendra.

“Apa?”

“Ini jaket kamu..”

“Kamu yang pakai..” sahut Rendra dengan senyum tipisnya.

“Kan kamu yang bonceng…”  protes Kinanthi seraya menghentikan langkahnya.

Rendra menoleh melihat Kinanthi terdiam. Laki-laki itu kemudian memutar langkahnya menghampiri Kinanthi. “Kamu yang pakai, Kinanthi..” ujar Rendra lembut seraya meraih tangan Kinanthi dan menariknya agar kembali berjalan.

Kie yang sama sekali tak menduga Rendra akan melakukan hal seperti ini, hanya bisa menurut, seraya berusaha menarik napas dalam-dalam untuk meredakan detak jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat.

****

                Rendra mendapati gadis yang tadinya berjalan disampingnya itu menghentikan langkah. ia pun berbalik. Gadis itu tengah menatapnya dengan tatapan protes. Hatinya sempat tergelitik untuk tersenyum, tapi diurungkannya. sedetik kemudian kakinya melangkah menghampiri Kinanthi. Tanpa sadar diraihnya tangan gadis itu, agar kembali berjalan bersamanya.

                Rendra merasa tangannya basah akan keringat dingin. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari normal. Hanya karena sebuah tangan hangat itu.

****

                Matahari siang hingga sore itu bersinar sangat terik. Panas udaranya seakan-akan seperti matahari sudah sangat dekat dengan bumi.

                Cuaca siang itu nyatanya cukup ampuh membuat kantin SMAN 24 Surabaya dipenuhi siswa-siswa yang berjubel berebutan membeli minuman dan snack. Para ibu-ibu pengelola kantin pun kewalahan memberikan kembalian dan melayani pesanan para anak manusia yang tengah diserang dehidrasi hebat itu.

Diantara pemandangan di kantin yang rumit diterjemahkan itu (jiaah-,-), dua sosok gadis tengah berdiri memandangi keadaan di depannya dengan geli.

“Hyalah, kayak habis puasa 2 hari 2 malem tanpa sahur aja..” celetuk seorang gadis di samping Kinanthi seraya geleng-geleng kepala.

Kie hanya tersenyum.

“Kamu nggak apa-apa Kie?” gadis itu mengalihkan perhatiannya pada Kinanthi yang tidak merespon celetukannya.

“Enggak, Rin..” jawab Kinanthi seraya tersenyum.

“Kok?”

Kinanthi menoleh mengetahui Farin menggantung kalimatnya. “Apa?”

“Pucat. Hey! Jangan bilang kamu belum sarapan!” wajah Farin berubah menjadi garang seraya menatap sahabatnya satu itu.

Kinanthi meringis. “Kesiangan tadi. Tahu sendiri kan? Aku nyaris datang tepat waktu. Tepat saat bel masuk bunyi..”

“Ya tapi kan paling nggak kamu bilang! Biar begitu bel istirahat bunyi, tadi kita langsung kesini!” sahut Farin, masih dengan wajah seorang ibu-ibu yang sedang memarahi anak kecilnya.

“Yah maaf.. Tapi aku nggak apa-apa kok!” jawab Kinanthi dengan senyum polos. Kinanthi tahu betul, kalau ia masih terus menjawab, Farin pun juga tidak akan berhenti menyudutkannya.

Bel masuk berbunyi nyaring ketika Farin baru saja membuka mulutnya untuk kembali  mengomeli sahabat karibnya satu itu.

Farin pun mengatupkan kedua bibirnya dengan wajah sebal. Sedangkan Kie, gadis itu malah sedang sibuk bersyukur karena bel masuk telah menyelamatkannya dari omelan ‘mama’ keduanya.

****

                “Kie..” Kinanthi mengangkat wajahnya yang semula tertutupi oleh kedua lengannya.

Rendra berdiri di samping bangkunya dengan wajah yang sulit diartikan.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya Rendra seraya menyentuh kening Kie lembut.

Kinanthi tersenyum. Tangan Rendra yang hangat membuat rasa sakitnya sedikit terlupakan. “Enggak, Ren..”

“Kamu bener-bener pucat..” ujar Rendra dengan nada..yah..mungkin khawatir.

“Farin..” celetuk Kie, mengabaikan kalimat Rendra.

“Farin ke kantin. Beliin minum sama roti buat kamu. Dia bilang kamu belum sarapan.”

Kie tersenyum. Sahabatnya satu itu memang multifungsi, bisa jadi mama, bisa jadi kakak, bahkan bisa jadi guru untuknya.

Kinanthi seketika meringis menahan sakit di lambungnya yang menyerang lebih hebat.

“Kie!” Rendra menyentuh lengan Kinanthi pelan.

Kie tak menjawab panggilannya. Rasa sakit yang hebat menyerang perut kirinya. Membuatnya semakin lemas tak berdaya.

“Ren, Kie gimana?” tanya Farin begitu muncul di pintu kelas.

Rendra tak menjawab, ia panik sendiri melihat gadis di depannya menahan sakit dan lemas tak berdaya.

“Astaga! Ren! Aku anter Kie ke rumah sakit pakai taksi. Kamu susul bawa sepeda, jangan lupa hubungi mamanya!” ujar Farin cepat seraya berusaha susah payah membopong Kinanthi.

Rendra pun tak tahan melihat pemandangan di depannya. “Sini! Biar aku..”

Dipindahkannya lengan Kinanthi dari bahu Farin ke bahunya. Dengan perlahan Rendra mengangkat tubuh gadis itu dan membawanya ke depan sekolah untuk mencari taksi. Farin pun mengikuti langkah Rendra seraya membawa tas milik Kie dan miliknya sendiri.

Setelah sebuah taksi membawa kedua gadis itu ke rumah sakit, Rendra bergegas menuju tempat parkir dan meluncur ke rumah Kinanthi untuk memberi kabar pada orangtua gadis itu.

****

to be continued…

tunggu yah lanjutannya🙂

thanks yg udah nyempetin buang waktunya buat baca

2 thoughts on “I Surrender #1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s